="text/javascript
="text/javascript">var servicedomain="www.123contactform.com"; var frmRef=''; try { frmRef=window.top.location.href; } catch(err) {}; var cfJsHost = (("https:" == document.location.protocol) ? "https://" : "http://"); document.write(unescape("%3Cscript src='" + cfJsHost + servicedomain + "/includes/easyXDM.min.js' type='text/javascript'%3E%3C/script%3E")); frmRef=encodeURIComponent(frmRef).replace('%26','[%ANDCHAR%]');

Jumat, 12 Juni 2015

Perbedaan Mendasar Antara E-Commerce Dengan Retail Convensional

Strategi yang diaplikasikan oleh Retail konvensional adalah melalui media iklan secara gencar melalui media massa / radio / televisi. untuk mempromosikan produknya, oleh sebab panjangnya proses distribusi yang dilaluinya.

§  Dari Sudut Pandang  Waktu

Pada bisnis e-commerce, para pelanggan bisa mengakses suatu website atau situs yang diinginkannya kapan dan dimanapun asalkan bisa terhubung dengan intenet, sehingga dari pihak pedagang, ini akan meningkatkan keuntungannya karena prinsipnya toko yang selalu terbuka jelas terlihat lebih nyaman dan memudahkan. 

Pada retail konvensional, toko atau usaha yang memiliki jam kerja yang terbatas akan menyulitkan pelanggan untuk memenuhi kebutuhannya dan keuntungan dari usaha konvensional itu akan terbatas. 

§  Dari Sudut Pandang  Biaya dan Tenaga

Pada e-commerce, biaya lebih dapat ditekan karena dari segi penggunaan sumber daya manusia dan tenaganya yang minim sehingga perusahaan lebih bisa menekan sejumlah biaya seperti menekan biaya gaji karyawan, uang lembur, insentif, menekan biaya dan bisa menekan sumber daya yang lain seperti listrik, air, dan lain - lain. Dan bagi pelanggan, e-commerce akan memudahkan perbelanjaanya karena banyak produk dapat dicari dengan cepat, ketersedian dan informasinya yang lengkap dan mudahsehingga menghemat waktu dan biaya yang dikelurkan pelanggan, 

Pada retail konvensional, biaya yang dibutuhkan lebih banyak, karena retail konvensional membutuhkan lebih banyak tenaga manusia untuk menjaga counter, biaya pemeliharaan kebersihan toko dan perusahaan, dan  lain sebagainya. Pada sisi konsumen, retail konvensional akan menghabiskan waktu dan biaya yang dimiliki pembeli, karena pembeli harus memilih dan mencari barang yang diinginkannya dengan dirinya sendiri.

§  Dari Sudut Pandang Pelayanan dan Pelanggan

Pada e-commerce, segi pelayanan pada pelanggannya bisa dikatakan lebih baik karena meskipun tidak melakukan tatap muka secara langsung dengan pelanggan, e-commerce menggunakan "private service" atau lebih menggunakan sistem tersendiri yang secara otomatis memprogram untuk pemilihan apa yang dibutuhkan pelanggan dari awal hingga akhir. sehinggapelayanan yang diberikan bisa lebih cepat, akurat dan nyaman, selain itu, perusahaan bisa mendapatkan lebih banyak pelanggan karena jangkauan e-commerce yang sangat luas dan tidak mengenal batasan wilayah.

Pada retail konvensional, pelayanan ke pelanggan dirasakan lebih membutuhkan waktu karena pelanggan harus menunggu giliran untuk diambilkan barang yang diinginkannya oleh penjual atau harus berkeliling sendiri mencari apa yang dibutuhkannya dan pelanggan harus menunggu beberapa saat untuk menyelesaikan perbelanjaannya ( mengantri, packing, pembayaran, dll ). pelanggan dari retail konvenional biasanya merupakan pelanggan yang loyal dan usahanya tidak begitu berkembang karena jaringan usahanya yang tidak luas.

  §  Dari Sudut Pandang Tempat

Pada e-commerce, tidak dibutuhkan banyak tempat dan benda lain untuk mendisplay barang - barang. Cukup dengan mendisplay foto dan keterangan singkat tentang barang dan bisa di-post ke jejaring sosial. Dan foto tersebut sudah bisa dilihat oleh banyak orang dari berbagai daerah di belahan dunia, contoh: pada website sebuah perusahaan batik, pihak perusahaan tidak perlu menghabiskan banyak tempat untuk mendisplay hasil produksi mereka dan perusahaan tidak perlu repot untuk mengurus resiko dari kain batik yang dipajang ( warna cepat pudar karena terpapar sinar matahari, terkena air hujan saat staff perusahaan sedang sibuk dengan urusan lain, dan lain lain ).

Pada retail konvensional lebih banyak menghabiskan tempat untuk mendisplay hasil produksinya, pekerjaan dalam perusahaan menjadi lebih banyak karena akan disibukkan dengan pembersihan tempat display produk, penjagaan di setiap counter produk untuk menghindari hal - hal yang tidak diinginkan, seperti perusakan, pencurian, dan lain - lain. 

  §  Dari Sudut Pandang Biaya dan Tenaga

Pada e-commerce, biaya lebih dapat ditekan karena dari segi penggunaan sumber daya manusia dan tenaganya yang minim sehingga perusahaan lebih bisa menekan sejumlah biaya seperti menekan biaya gaji karyawan, uang lembur, insentif, menekan biaya dan bisa menekan sumber daya yang lain seperti listrik, air, dan lain - lain. Dan bagi pelanggan, e-commerce akan memudahkan perbelanjaanya karena banyak produk dapat dicari dengan cepat, ketersedian dan informasinya yang lengkap dan mudahsehingga menghemat waktu dan biaya yang dikelurkan pelanggan. 

Pada retail konvensional, biaya yang dibutuhkan lebih banyak, karena retail konvensional membutuhkan lebih banyak tenaga manusia untuk menjaga counter, biaya pemeliharaan kebersihan toko dan perusahaan, dan  lain sebagainya. Pada sisi konsumen, retail konvensional akan menghabiskan waktu dan biaya yang dimiliki pembeli, karena pembeli harus memilih dan mencari barang yang diinginkannya dengan dirinya sendiri.

  §  Dari Sudut Pandang Komunikasi

Pada e-commerce, komunikasi antara perusahaan dengan pelanggan akan terjalin dengan baik meskipun tanpa tatap muka, karena pelanggan dari berbagai daerah dibelahan dunia yang mengakses suatu website akan bisa menyampaikan kesan, pertanyaan, dan keluhannya. 

Pada retail konvensional komunikasi yang bisa dilakukan antara pelanggan dengan perusahaan sangat terbatas, hanya saat melakukan transaksi saja dan komunikasi yang dijalin pun hanya dengan orang - orang yang terbatas karena jangkuan usahanya tidak luas

Perbedaan MLM dengan Money Game

Disini saya akan menjelaskan perbedaan MLM murni dengan Money Game ( mengaku sebagai bisnis MLM ) Saya akan memberi Anda beberapa tips agar Anda bisa membedakan antara MLM dan Money Game :


  • Dari segi Keanggotaan

 MLM : untuk mendaftar sebagai member atau distributor dalam bisnis MLM biasanya relatif kecil (ratusan ribuan). Biasanya Biaya itu hanya sebagai pengganti biaya administrasi seperti website resmi, produk, CD, starterkit, kartu anggota, brosur dll.

Money Game : untuk mendaftar sebagai member atau anggota bisnis money game, biasanya uang pendaftarannya akan sangat besar (berjuta-juta) dan tidak mendapatkan apa-apa.


  • Dari segi Produk
Produk yang dijual di bisnis MLM :
Untuk produknya Memiliki ijin Depkes, BPOM, MUI, atau memiliki sertifikat yang sah dan Mudah dijual di pasaran karena kualitasnya yang terjamin dan tidak pasaran. Bisnis tetap dapat berjalan walaupun tidak memiliki downline, dengan hanya berjualan produk. Perusahaan MLM akan memberi jaminan terhadap produk yang mereka jual. Perusahaan MLM selalu berinovasi dalam Penelitian dan Pengembangan produk mereka.

Produk yang dijual di bisnis Money Game:
Produk biasanya sulit sekali dijual bahkan tidak bisa dijual, atau pelakunya sendiri malah enggan untuk memakainya. Keanggotaan lebih penting (rekrut terus tanpa jualan) daripada produk atau dengan kata lain tujuan dari transaksi adalah untuk memperoleh komisi dan member baru bukan produk. Produk kadang hanya fiktif dan kalaupun ada berkualitas rendah atau tidak sesuai dengan nilai uang yang dibayarkan.


  • Sistem yang Jelas

MLM : Perusahaan MLM yang murni memiliki Success Plan yang jelas ada jenjang karir yang bisa dikejar. Sangat jelas darimana asal keuntungan, level atau peringkat yang bisa dicapai, aturan main, dan kode etik bagi member. Bonus yang diperoleh adalah berdasarkan OMZET penjualan. Ada prinsip keadilan dalam bisnis, dimana downline yang lebih giat dan fokus dalam bekerja bisa memperoleh profit atau peringkat karier lebih tinggi dari upline-nya. Upline pun punya kepentingan dengan downline, dimana dia juga harus membantu perkembangan jaringan downlinenya agar jenjang karirnya terus naik.

Money Game : Sementara pada bisnis Money game, berlaku sistem piramid, dimana upline pasti dapat untung lebih besar. Bonus yang diperoleh adalah berasal dari Biaya Pendaftaran para member barunya.


  • Surat Ijin

MLM : Perusahaan MLM dilengkapi dengan perijinan resmi dan lengkap seperti Surat Izin Usaha Penjualan Langsung (SIUPL).

Money Game : Biasanya tidak memiliki / bahkan tidak bisa memiliki Surat Izin Usaha Penjualan Langsung (SIUPL).


  • Training dan Support System

MLM : Perusahaan MLM akan memberikan pelatihan-pelatihan mengenai produk mereka, keahlian yang diperlukan dalam memasarkan produknya, leadership, marketing, pengembangan diri, dll. Perusahaan juga menyediakan support system yang siap membantu perkembangan bisnis untuk para anggotanya yang mengalami kendala.

Money Game : Pada perusahaan Money Game biasanya menggunakan akan model pelatihan motivasi untuk ‘cuci otak’ agar mereka jadi loyal. Bahkan ada yang sama sekali tidak memiliki sistem pelatihan maupun support system.